Sabtu, 04 Mei 2013

Same Colors, Different Feelings


Mungkin kamu tak pernah peduli. Mungkin kamu tak pernah memperhatikannya. Atau mungkin aku yang terlalu berlebihan mengartikannya. Tapi entah kenapa, sesuatu yang aneh menyangkut di hatiku ketika aku mulai menyadarinya.

Hal kecil seperti pakaian yang warnanya kembar, misalnya. Aku yakin kamu tak pernah sadar itu. Tapi aku sadar.

Bahkan aku terlalu sadar sampai-sampai aku terus memperhatikannya dan berharap lagi.

Hari pertama, mungkin sebuah kejutan kita sama-sama memakai warna daun. Aku hijau lumut, sedang kamu hijau muda. Aku diam-diam tersenyum. Kupikir, ini adalah sebuah kebetulan yang mengejutkan.

Keesokan harinya, warna kembar kembali terjadi. Aku hanya menepuk kepalaku, lalu bercerita pada teman-teman sekamar bahwa ini terjadi lagi. Ini sedikit menggangguku dan terasa sedikit aneh. Aku sempat yakin bahwa bajuku tak akan sama lagi denganmu. Kebetulan tak akan terjadi sebanyak lebih dari dua kali.

Hari terakhir, ternyata warna bajunya masih satu nafas. Entah apa arti dari semua ini, atau Tuhan hanya memberiku kejutan-kejutan kecil lewat kamu. Semuanya terasa aneh. Kita terlihat sedang janjian, atau semacam itu.

Same colors, different feelings. Baju kita sama. Tapi kamu tak sadar, sedangkan aku sadar. Kamu tak peduli, sedang aku peduli. Aku menyukaimu, sedang kamu tidak.

Degup itu tak lagi muncul saat kita berdua bertemu tatap. Tak ada lagi sayatan-sayatan halus yang indah. Tak ada lagi kupu-kupu yang menari di perut saat aku menatap wajahmu. Tapi rasa ingin berada di dekatmu masih ada walaupun hanya sedikit.

Sungguh, aku merasa aneh.

Sempat ku tangkap wajahmu sedang mengamatiku, tapi sedetik kemudian aku berpaling. Kata teman, aku hanya salah tingkah. Tapi aku tahu yang sebenarnya. Aku takut. Takut jatuh cinta lagi padamu. Takut jatuh cinta lagi pada siluetmu. Takut jatuh cinta pada segalanya tentang kamu.

Perasaan ini begitu tak terdefinisi. Namun akan kusebut ini rasa kagum. Izinkan aku tertawa pada diriku sendiri sekarang. Karena aku begitu bodoh memaknai perasaanku sendiri.

Di feri, ketika malam mulai merengkuh perjalanan kita, aku menangkap tatapanmu. Entah sepasang itu ditujukan ke arahku, atau ke sebelahku, atau di depanku, aku tak peduli. Aku segera memalingkan muka dan mencoba untuk menganggap tatapanmu hanyalah angin lalu.

Tapi, tolong katakan padaku. Apa tatapan itu hanya sesaat singgah, atau memang sengaja seperti itu? Apa artinya?

Kamu memang mungkin tak akan pernah menjadi milikku. Aku memang mungkin tak akan pernah menjadi milikmu. Tapi semua kenangan yang begitu membekas sampai tak bisa kulupakan ini, aku berterima kasih padamu.

Terima kasih karena sudah membuat hidupku lebih berwarna, walau kamu tak pernah sadar kamu berada di dalamnya. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar