Selasa, 26 Februari 2013

Silhouette


Siluet. Hujan. Dia.

Sebuah rasa peduli seorang teman telah membawanya untuk ikut menunggu hujan bersamaku. Rasa peduli yang bahkan teman-teman lain mungkin tak pernah sekalipun memikirkannya.

Semuanya terasa begitu aneh, bahkan ketika hati harus berkata jujur bahwa ini begitu.. tak terdefinisi.

Dengan rasa penuh keyakinan, biasanya aku akan berkata, “Aku enggak suka lagi sama dia, kok. Semuanya udah kayak biasanya sekarang.”

Tapi semuanya terasa beku ketika aku hanya berdua dengan dia. Bahkan ketika ini ditulis, aku masih belum bisa mendeskripsikan, perasaan apa itu.

“Hujannya di terobos aja, tah?” tanyanya. Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk ragu.

Semuanya bahkan terasa semakin tidak karuan ketika dia – kita – menyeberang jalan. Dia yang menyeberangkanku. Terdengar terlalu berlebihankah jika aku benar-benar merasa senang?

Dari dulu, aku tidak pernah bisa menyeberang sendiri. Pasti ada saja yang harus menyeberangkanku. Ada dua teman yang berhasil menyeberangkanku sejauh ini. Salah seorang teman cewekku, yang dengan berani saat jalanan macet menyeberang lalu.. dia.

Mungkin aku merasa senang karena menganggap orang yang bisa menyeberang itu hebat.

Atau mungkin aku merasa senang karena aku akhirnya dianggap sebagai seorang perempuan yang harus dilindungi. Merasa ada punggung yang selalu melindungiku kemana aku pergi, dalam hal ini ke seberang jalan.

Tapi, hei. Bukankah itu yang semua perempuan perlukan? Maksudku.. perlindungan?

Walaupun definisi romantis adalah menyeberang jalan sambil berpegang tangan, hal sesederhana seperti ini saja sudah membuatku kepikiran setengah mati.

Sambil menyetop, dia berkata, “Ayo, Nan.”

Dan.. yah. Sesederhana itu memang.

Apa aku terdengar seperti seseorang yang kurang perlindungan? Ah, tidak. Maksudku, kau pasti akan tahu perbedaan perlindungan orang tua dan perlindungan dari seseorang yang dulunya kau harapkan, dan pernah kau titipkan hatimu untuknya.

Sesederhana itu, seseorang dapat membuat memoriku terputar kembali. Sesederhana itu, seseorang dapat membuatku nyaman dan senang secara tiba-tiba. Dan sesederhana itu pula, dia membuatku kembali berpikir tentang ‘kapasitas residu’ di hatiku.

Ternyata memang benar apa kata orang, sekeras apapun kau berusaha menghilangkan perasaanmu, kau akan menyisakan setidaknya beberapa persen untuk dia.

Itu, karena kau sesungguhnya masih berharap padanya.

Aku menatap siluet punggungnya sekilas, dan sejenak mengiyakan perkataan hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar