Minggu, 17 Maret 2013

My Wishlist


Aku pengen jatuh cinta lagi.

But I’m not dealing with the pain. Exactly, I can’t.

Ketika bulan Februari yang padat itu lewat, ketika semua momen yang manis-pahit itu hilang, rasa ingin itu datang lagi. Ada seorang teman dari kelas sebelah yang naksir cowok di kelas. Tiba-tiba pas jam istirahat dia mampir ke aku dan temanku yang lagi makan di kantin.

“Eh, dia itu kayaknya masih suka sama si A, deh.” katanya membuka pembicaraan. Aku kaget. Si A ini adalah teman satu kelasku yang terkenal.. yah primadona, sih. Cantik, talkative, pokoknya memenuhi syarat seorang cewek populer. Enggak heran, sih banyak cowok yang naksir si A. Tapi beneran, aku enggak nyangka kalau cowok taksirannya juga suka sama A.

“Hieh.. masa?” tanyaku enggak percaya.

“Masa anak kelasnya sendiri enggak tahu..” katanya. Oke. Aku ngerasa enggak update banget. Bagus.

“Halah.. itu kan udah lama.” Temen makanku menyahut dari sebelah. Aku makin bingung. Ini sebenernya infonya yang terlalu baru, apa aku yang udah lama enggak di update, sih?

Enggak lama kemudian, dia balik ke kelasnya. Meninggalkan aku sama temen makanku yang keliatannya juga tahu tentang masalah ini.

“Masa sih taksirannya dia suka si A? Aku kok baru tahu?” tanyaku. Dia meminggirkan sendok dan garpunya, lalu mulai serius.

“Iya. Waktu itu kita kan main truth or dare. Disana dia ngaku kalau misalnya dia pernah suka sama si A.” jawabnya. Aku manggut-manggut.

Truth or dare, ya. Seems familiar.

Ya, keliatannya semuanya bermula dari permainan jadul itu. Mulai dari aku yang bohong sama diriku sendiri, sampe sekarang temen yang patah hati gara-gara pengakuan taksirannya.

Sakit hati, juga familiar sekali..

“Enak, ya punya taksiran. Rasanya punya naik-turunnya hidup, gitu.” kataku tiba-tiba sambil nerawang dan mencoba buat nginget-nginget lagi masa-masa kasmaran dulu.

Temenku ketawa hambar. “Iya, enak. Daripada kita yang enggak punya taksiran, rasanya hidup flat aja,” Aku manggut-manggut. “Tapi kalau misalnya sakit hati juga.. rasanya nyelekit.” lanjutnya.

Istirahat hari itu kita lanjutkan dengan pembicaraan tentang seorang single yang menyedihkan.

Malamnya, kita berdua mulai galau. Di twitter dia mention aku: “Pengen jatuh cinta lagi..”

Aku diem ngeliat mention itu. Antara mau jawab “Iya, aku juga.” Dan bingung. Apa aku siap jatuh cinta lagi? Apa aku siap sakit hati lagi? Apa aku siap dengar dia bilang kalau dia suka orang lain?

Lalu apakah aku siap untuk – misalnya – melepaskan dia yang nantinya akan jadi taksiranku jadian dengan orang lain untuk yang kedua kalinya?

Tapi akhirnya aku menjawab: “Tuhan, kami ingin jatuh cinta lagi. Tapi tidak dengan sakit hatinya.”

Sound impossible. Tapi Tuhan tahu jalan yang terbaik.

Tuhan, sungguh aku ingin jatuh cinta lagi. One of my wishlists.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar