Sabtu, 26 Oktober 2013

Another Unspeakable Feelings

Hari ini aku merasa tiba-tiba flashback ke masa lalu. Kembali ke masa satu tahun sampai dua tahun yang lalu. Jadi seorang perempuan berseragam putih-biru yang (kelihatannya) gembira.

Kadang heran juga ketika menyadari betapa mudahnya memori itu tergali dengan sendirinya, tanpa kita harapkan sedikitpun. Aku bahkan nggak pernah sadar kalau aku pernah mengalami hal yang seperti itu.

Hari ini sepulang sekolah, seorang teman curhat, tentang seorang taksiran yang lagi dia kejar. Dan intinya dia sedih karena taksirannya itu sudah punya pacar. Ketika ngedengerin ceritanya, aku manggut-manggut. Awalnya temanku ini nggak begitu percaya. Namun karena desakanku, akhirnya dia mau cerita, dengan satu syarat.

Syaratnya aku harus tutup mulut, tentu saja. Apa lagi yang kita butuhkan? Kata orang, awal dari menjadi seorang pendengar yang baik, adalah kamu harus bisa menjaga mulutmu sendiri. Tahu prioritas. Mana yang harus dibicarakan di luar, dan mana yang harus kamu simpan rapat-rapat untuk dirimu sendiri.

Temanku dengan ekspresi kecewa berat saat itu mengeluhkan nasib buruknya. Ketika seorang guru lewat dan menyuruh kita untuk segera pulang (karena ini malam minggu). Dengan raut wajah lesu dia berkata, “Saya kencan, kok Bu..”

“Kencan sama ikan, ya?” Aku menyambar kemudian sambil tertawa.

Sesampainya di rumah, aku mulai sadar kalau cerita temanku ini mirip sekali denganku. Sekitar satu, sampai dua tahun yang lalu. Cerita yang sampai sekarang masih terus mengendap diblog, untuk sesekali kubaca saat nggak ada bahan bacaan.

Biasanya, ketika aku sudah jenuh membuka beberapa situs yang biasanya kuketikkan di bar, aku akan membuka blog yang sedang kalian baca ini. Membaca beberapa post yang biasanya kuketik dengan terburu-buru karena betapa banyaknya luapan perasaan yang ingin kutuliskan.

Ada dua hal yang kusadari ketika aku membaca tulisan lamaku. Pertama, aku merasa gaya bahasaku nggak konsisten. Kadang bisa santai, dan kadang bisa berakhir semi cerita online seperti sekarang. Anggap saja aku masih mencari jati diri.

Kedua, aku merasa bahwa semua yang aku tulis di sini, ada perlunya juga. Senggaknya aku dapat mengingat masa-masa yang perlu kuingat, dan kuanggap menarik dulu.
Karena kebiasaan itu, terkadang aku malah membuka luka lama. Sudah jadi rahasia umum kalau aku juaranya jatuh cinta diam-diam.

Aku jatuh cinta padanya, saat menginjak tahun kedua sekolah menengah pertama. Uhm. Mungkin nggak jatuh cinta. Lebih ke sekadar perasaan nyaman yang selalu ia tawarkan. Dia di sisiku, aku merasa begitu nyaman dan dekat. Tak pernah aku merasa sedekat itu dengan seorang laki-laki tanpa rasa canggung sedikitpun.

Sayangnya ketika aku memiliki perasaan itu, dia mungkin nggak memiliki perasaan yang sama. 

Dia malah jatuh cinta pada perempuan lain, lalu menjalin hubungan dengan perempuan itu.
Mungkin ini takdir. Kata orang, kamu nggak boleh melawan yang namanya takdir.
Dan selalu seperti itu akhirnya. Aku suka pada seseorang yang sudah punya pacar. Mungkin semacam siklus yang terus berputar seperti hujan.

Dia adalah laki-laki yang baik. Bisa diandalkan. Mungkin sebagian orang tidak menyangka ia seperti itu, karena tingkahnya yang selalu santai. Tapi kenyataannya dia bisa diandalkan.
Aku nyaman di sisinya sampai sekarang. Aku tahu pasti itu karena hal yang kusebutkan. Dia laki-laki yang bertanggung jawab, dan bisa diandalkan.

Dia punya seorang pacar, dan aku nggak. Memang kenyataan itu yang nggak pernah bisa berubah. Seakan dia adalah Arjuna yang terus menembakkan panahnya pada sasarannya. Selalu berhasil mendapatkan yang ia mau.

Dan aku hanyalah seorang perempuan yang tidak beruntung terkena panah asmara dari Arjuna. Aku hanya pemeran pembantu di skrip cerita hidupnya. Tak pernah jadi seseorang yang terlalu berarti.


Walaupun ia jadi pemeran utama dalam skrip ceritaku sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar