Jumat, 20 September 2013

A True Beauty

“The beauty that will last forever is inner beauty, not the beauty that we can see from far away.”

Yang namanya karakter setiap manusia itu nggak ada yang bisa ngira. Semua itu biasanya bisa kita liat, dan jadi kesan pertama kita buat orang itu. Tapi terkadang, untuk bisa menerima karakter manusia itu butuh waktu yang panjang banget. Khususnya, untuk sisi negatif dari orang itu.

Kedengarannya berat, ya?

Tapi itulah topik pembicaraan antara aku sama mama hari ini. Faktanya, ada seorang teman lamaku yang karakternya membuat orang kaget. Wajahnya ayu bak putri, tapi tingkah laku minus sekian.

Aku sempat punya masalah sama seorang teman lama ini. Walaupun kelihatannya kita nggak pernah bergesekan sama sekali pas sekolah dulu, tapi menurutku aku sudah mengalami beberapa gesekan sama dia.

Bahkan, entah mengapa aku merasa bahwa aku sudah ditandai sebagai saingan sama dia. Entahlah. Hanya sebuah insting yang tiba-tiba muncul ketika aku membicarakan dia. Pasalnya, dia selalu berusaha untuk terlihat lebih daripada orang lain, khususnya aku. Mungkin kedengarannya terlalu over ketika aku bilang begini, tapi itulah pikiran yang muncul.

Ya, gitu, ma. Dia kadang-kadang bikin aku sebel banget,” Begitu kataku setelah segala tetek bengek tentang teman lama ini kembali kubuka saat sesi curhat. Mama cuma manggut-manggut. Wajah beliau terlihat serius sekali.

“Kalau gitu, lain kali kamu labrak aja kalau ketemu. Biar tahu rasa,” Mama berkata kemudian dengan ekspresi yang sama.

Air kran mengucur, sementara aku membilas piring yang masih berlumuran sabun. “Iya juga, sih ma. Tapi aku males ribut-ribut. Kalau orang nggak tahu karakternya dia, ya mesti emosi kayak mama,”

“Percuma mukanya cantik tapi tingkah lakunya nggak bener,”

“Makanya itu. Aku kadang-kadang juga nggak habis pikir. Sayang mukanya ayu,” kataku.

“Mama waktu pertama ngeliat dia juga kurang sreg. Kesannya kurang menyenangkan, gitu,” Mama kemudian cerita. Aku masih ingat saat mama dan teman lamaku itu bertemu. Saat itu mama menjemput aku di sekolah, dan kemudian mama tanya ke dia di mana aku.

“Sudahlah. Yang penting, kan kamu nggak kayak gitu. Kamu harus baik jalannya,” ucap mama. “Lagipula, orang-orang yang bener, mesti tahu, lah. Mereka pasti lebih cenderung ke anak yang cantik, terus tingkahnya nggak aneh-aneh. Kalau cuma ngeliat mukanya aja, itu yang nggak bener,

Aku terdiam. Sesaat kemudian mama mulai mengambil alih tugas cuci piringku. Saat masuk ke kamar, perlahan kuresapi nasihat mama.

Orang yang baik, pasti tahu mana kualitas yang mereka cari. Contohnya saja saat membeli barang. Orang yang tahu kualitas, pasti akan menyeleksi barang mana yang mereka perlu beli, seperti apa fungsinya, juga berapa harganya. Mereka tentu nggak akan keberatan membayar sedikit mahal untuk barang yang kualitasnya memang benar-benar baik.

Tapi kalau orang yang sembarangan, mereka pasti akan asal ambil. Asal tampilan luarnya bagus, pasti mereka akan langsung membelinya tanpa pikir panjang. Tindakan sembrono untuk orang di jaman sekarang.

Kembali pikiran itu melebar.

Ketika aku mulai menggabung-gabungkan semua kualitas yang secara tersirat mama bilang, aku tahu sekarang. Bagaimana tipikal laki-laki yang baik, atau tidak.

Sama seperti analogi kita tadi.

Kalau dipikir-pikir, kata-kata dari orang bijak itu bukan cuma asal ngomong. Selalu ada makna dalam yang bisa digali. Untungnya tidak terlalu bercabang banyak seperti filsafat, tapi kebenaraannya bisa diresapi benar.

Aku tahu sekarang tipe laki-laki mana yang harus kupilih.

..

..


Dan aku lebih memilih menjadi seorang yang baik hatinya daripada jadi seorang yang baik wajahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar